“siap
Irfan, aku akan mencoba kembali, tolong bantu aku”, jawabku tersenyum. Tentu
senyumku akan terlihat di sana, di kamera laptop milik Irfan.
No
internet conection, pesan muncul di layar monitorku, oh Tuhan,
sudah separuh nomor ujian aku kerjakan, tiba-tiba jaringan terputus, aku panik,
cek kuota tethering handphone pun habis. Lengkap sudah, aku tahu pasti
di sana Irfan juga ikut cemas. Aku mencoba untuk tetap tenang, berharap semua
akan baik-baik saja.
Menit
keenam puluh, akhirnya internet tersambung kembali, dan ternyata benar, chat
Irfan begitu banyak
“Apa
yang terjadi Lisa, kenapa terputus?”
“Erorr
jaringan kah?”
“Hello”
“Kenapa
diam, Lisa?”
“Bagaimana
nanti kalau tidak selesai?”
“Lisa…”
“Cek…”
Aku
segera membalas chat Irfan yang ikut panik,
“iya,
maafkan aku, jaringan terputus, kuota habis”, jawabku diakhiri dengan emot
tertawa tiga kali
Irfan
membalas chat dengan emot marah diikuti hugh yang membuatku
makin bersemangat melanjutkan soal ujian yang tertunda tadi.
“Ayuk
Lisa, jangan menunda lagi, keburu waktu habis”, chat Irfan membangunkan
lamunanku
“siap
komandan, lanjutkan” masih dengan canda aku membalasnya
Kali
ini Irfan membalas dengan emot full love. Oh Tuhan aku terdiam sejenak,
aku lihat senyuman manis itu dari camera laptopku, senyuman yang memesona.
Hampir
satu jam aku mengerjakan ujian online itu bersama Irfan, tak terkira nilaiku
sangat memuaskan, 98,75. Nyaris sempurna bukan?
“Terima
kasih Irfan, kamu memang cerdas”, ku ketik kembali chat di whatshapp
“Kembali
kasih Lisa, kamu juga luar biasa”, jawab Irfan
***
Pekan
kedua,
Seminggu
berlalu, aku mulai merindukan chat dari Irfan. Hening, sepi rasanya jika chat
itu tak kunjung datang. Kehadirannya mulai mengganggu pikiranku, merubah
duniaku, yang sepi dan kini terasa begitu bahagia. Sosok Irfan yang baru aku
kenal sepekan ini, lewat sebuah pelatihan yang kami ikuti secara daring,
seringkali aku mencuri senyuman di balik layar. Senyum yang muncul ketika Irfan
sedang melakukan presentasi, senyuman yang khas, manis penuh karisma. Sejak
saat itu aku tak mampu untuk meng_on_kan camera, biarlah memandang
senyumnya saja, jadilah dia penyemangatku.
Tak
terasa, kegiatan pelatihan yang aku ikuti bersama Irfan selesai sudah, tak ada
lagi on camera pada gmeet di layar laptopku, begitu banyak ilmu
sekaligus kenangan yang aku ciptakan bersama Irfan, dan teman-teman kelompok
kami. Ninda, Satya, Rumia, dan Janaka, kami kelompok yang kompak, meski belum
pernah bertemu di dunia nyata. Bahkan narasumber juga bilang bahwa kelompok
kami paling kompak.
Aku
tak pernah mengira, apa yang aku rasakan ternyata sama, dengan apa yang Irfan
rasakan, dia mulai chat aku lagi, tiap hari, bahkan lebih sering dari biasanya.
‘Pagiii
Lisa, apa kabarmu hari ini?, chat Irfan masuk tepat jam 06.00 pagi
“Aku
baik Irfan, dan kamu?”, jawabku ceria
“Ahhh,
apa gak ada perasaan lain selain baik nih?” Irfan mulai menggodaku
“Maksudnya”,
aku pura-pura bingung dengan pertanyaan Irfan
“Ya
perasaan bahagia gitu dapat chat dari akuuuuuu, apa malah sedih nih?”, Irfan
membalas dengan cepat.
“Biasa
aja kaliiiii….”, Aku masih enggan untuk jujur
“Oh
iyaaa, Lisa, aku boleh bicara sebentar di telpon gak?”
“Iya
boleh, silahkan”, tak terasa jantungku berdetak kencang
Lima
menit berlalu, aku masih menunggu telepon dari Irfan, lama sekali rasanya
Dering
Bon Jovi terdengar dari hanphone kesayanganku, segera aku tap dan
menjawab telepon Irfan, ada rasa ragu, ini pertama kalinya aku menerima telepon
Irfan.
“Lisa,
masih sibukkah?”, suara Irfan terdengar begitu indah, sudah terbayang pastinya
Irfan sosok lelaki penyabar.
“heeem,
udah agak selow ini, gimana gimana?”, dan aku merasa begitu bahagia
“Minggu
depan, aku ke kotamu, boleh ya?”, Irfan memohon
Aku
terdiam sejenak, bahagia sekaligus kaget, apa benar Irfan akan datang ke sini,
menemuai aku.
“Hello,
apa masih ada orang di sana?”, Irfan mencerca dengan pertanyaan kembali, seakan
membutuhkan jawabku cepat
“Eeee,
masih,masih, iya gimana?”, aku gugup
“Iya,
itu dijawab dong, gimana boleh gak aku ke kotamu?”, terdengar semakin memaksa
aku untuk menjawab boleh.
“Boleh
kok, boleh”, aku masih menganggap itu semua gurauan.
“Okeh,
baiknya naik apa aku ke situ?”
“Kereta
aja”, jawabku pelan
***
Sabtu
pagi, aku menunggu kabar dari Irfan, dia sudah berjanji akan datang ke kotaku
hari ini, dan aku menjemputnya di stasiun. Kaos putih dengan paduan rok pink
bermotif bunga, dan hijab pink senada rok, membuatku terlihat lebih feminim,
aku berharap pertemuanku dengan Irfan memberikan kesan yang tak akan bisa
dilupakan.
Lima
belas menit aku menunggu, kereta Argo Wilis tujuan Bandung – Jogja
sampai tepat pukul 06.15 wib, aku berdiri, mencari lelaki ber-hoodie hitam,
celana blue jeans. Ahhh, gak ada juga lelaki yang mirip Irfan, sudah
hampir habis penumpang keluar dari gerbong kereta, aku berbalik arah, melangkah
pulang, tiba-tiba ada yang menepuk lenganku, dan ternyata Irfan. Ya Tuhan,
benarkah ini Irfan, sosok lelaki yang selama satu bulan ini mewarnai dunia
mayaku, yaa memang benar, mirip sekali dengan Irfan yang ada di kamera
laptopku, benar, dan dia Irfan.
“Lisa,
itu kamu kan?”, Irfan memastikan keberadaanku
“Iya,
ini aku, Lisa. Apa kamu Irfan?”, aku balik bertanya
Aku
mengajak Irfan ke sebuah Café, tempat aku menikmati kopi bersama
teman-temanku, tempat yang indah dan nyaman untuk menenangkan diri dari hiruk
pikuk kehidupan. Irfan masih terlihat ragu dan canggung.
“Kamu,
mau minum apa?” aku mulai membuyarkan keheningan
“Americano”,
jawab Irfan datar
“Americano
satu, Avocado Coffee satu ya kak”, aku memesan dua cangkir kopi
“tambah
roti bakar keju cokelat satu yaa”, Irfan menambahkan
“Okeh
kak”, pelayan Cafe mengangguk
mengiyakan.
“Lisa,
terima kasih yaa, kamu sudah mau menemui aku, jujur aku memberanikan diri
datang menemui kamu, kamu tau kenapa?”, Irfan menarik tanganku, menggenggamnya
erat
“Emang
kenapa?”, aku bertanya balik
“Tatap
mataku Lisa, harusnya kamu tau, pertama kali kita chat, aku mulai suka
sama kamu, dan sekarang bahkan aku memiliki perasaan lebih Lisa, aku sayang
kamu.”. Irfan semakin erat memengang jemariku, seakan tak mau melepaskan
sebelum aku menjawab “iya”.
“Irfan,
bukankah kita baru saja saling kenal, kenapa bisa secepat itu kamu menyatakan
sayang padaku?”, aku mulai terbawa suasana, padahal dalam hatiku langsung
menjawab “iya”, tapi aku masih ragu, tidak mungkin secepat ini Irfan menaruh
rasa padaku, lalu bagaimana dengan aku, bukankah aku juga memiliki perasaan
yang sama, dan ini benar adanya.
“Aku
gak tau Lisa, aku sayang kamu, udah, maukah kamu menerimaku Lisa?”, Irfan
seolah makin memaksaku untuk segera menjawab
Aku
tertunduk, tak mampu menatap mata Irfan yang begitu tajam, menatap begitu
dalam, menatap dengan penuh rasa sayang, jemarinya semakin erat menggenggam,
dan aku mulai menyadari, benar ini cinta, datang tak terduga, datang dari mana
saja, tanpa permisi pada pemiliknya.
“Maafkan
aku Irfan, aku juga terlalu cepat untuk memiliki rasa ini padamu, aku
menyayangimu tanpa sebab, yang aku tau kamu telah membuatku nyaman, di dunia
maya sekalipun, dan izinkan aku untuk menjawab iyaaa, aku menerimamu
sepenuh hati”. Egoku terkalahkan oleh rasa sayang yang makin dalam, entahlah
aku telah menjawab iya untuk seseorang yang aku kenal lewat dunia maya.
“Silahkan
Kak, ini kopinya”. Pelayan datang memberikan kopi plus senyuman manisnya
Irfan
kaget, dan melepaskan genggaman tangannya, sementara aku menggeser cangkir kopi
Americano ke depan Irfan.
“Silahkan”,
aku menyodorkan cangkir kopi
“Terima
kasih Lisa, pasti kopi ini terasa manis, meski tanpa gula, karena ada kamu di
hadapanku Lisa”, Irfan mulai menggombal.
“Aaahhh,
kamu bisa aja”, aku mencubit lengan Irfan manja.
Satu
jam berlalu, aku semakin nyaman bersama Irfan, menghabiskan secangkir kopi
rasanya belum cukup, ingin rasanya memesan lima cangkir kopi lagi, agar kami
bisa lebih lama di Café ini.
Americano,
saksi
bisu pertemuan pertamaku dengan Irfan, dan bukti nyata bahwa kehidupan ini
tidak akan selalu pahit, manis pasti datang setelahnya. Seperti kisahku dengan
Irfan, menjadi kenangan yang tak akan terlupakan,
Alunan
musik mulai terdengar, lagu itu… yaaaa
***
Nemu
koe pas ati ambyar ambyare
Pacar
seng tak tresnani ninggal aku golek liane
Tekamu
dadi tombo
Ngobati
ati seng loro
Mugo
ikhlas nompo
Tekan
mbesuk nganti tuo
Koe
seng paling ngerti marang kahanane ati
Aku
mok semangati ngusap iluhku seng mbrebes mili
Pepujane
ati kinaryo kembange wangi
Sabar
sabarno momong aku
Mugo
selawase dadi siji
Matursuwun
gusti mpun maringi seng gemati nemu slirane ngobati ati kang sepi
Matur
suwun gusti mpun maringi seng gemati yang pergi biarlah pergi ono koe seng
ngancani
….






